Kamis, 30 Mei 2013

Balada Mei


Pagi di penghujung Mei

Mei, bulan kelima dari kalender masehi. Mei, menjadi momen dari bulan pendidikan, kebangkitan. Mei, juga menjadi titik balik dari reformasi negeri ini.

Awal mei, murid-murid dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas melaksanakan Ujian Nasional yang menjadi tolak ukur dari kemampuan kognitif pembelajar. Kajian tentang penyelenggaraan UN yang kontradiktif amat seringkali dibahas menjelang pelaksanaannya. Puncaknya, carut marut dengan tidak serentaknya pelaksanaan UN di berbagai daerah Indonesia menjadi gugurnya kata “nasional” dalam ujian ini. Apalah jadinya jika distribusi soal belum merata di hari H pelaksanaan. Belum cukup dengan beban-beban materi  ajar yang harus dikuasai siswa (yang juga disamaratakan), tuntutan dari lingkungan sekolah dengan ambisi untuk menjadi sekolah unggulan dengan mencetak lulusan-lususan terbaik dengan nilai diatas rata-rata. Terkadang muncul juga tuntutan dari keluarga, untuk menjadikan anak mereka sebagai siswa berprestasi yang ditunjukkan dengan angka-angka dalam ijazah. Kalaulah unggul dan berprestasi itu hanya ditunjukkan dengan besarnya angka-angka di atas kertas, apalah jadinya Einstein? Baik, mari kita perbaharui definisi kita tentang cerdas. Cerdas menurut Pak Tua (dalam angpau merah) adalah juga mampu menyimpulkan. Cerdas bukan pas sidang skripsi tapi saat terjuan di masyarakat, begitu ungkap ust. Aceng Rahmat beberapa menit sebelum sidang skripsi dilaksanakan. Menurutmu apa itu cerdas?

Pagi ini tak sengaja saya menjadi orang pertama yang mendapatkan Koran terbaru di Sekolah, salah satu tajuknya di penghujung mei ini membahas tentang Cendana. Lima belas tahun lalu di bulan ini, para aktivis dari berbagai golongan berpegang tangan sambil mengelukan “reformasi”. Sebagian lain menjadi tameng bagi Cendana. Itu lima belas tahun silam. Sekarang, tak jarang orang-orang yang beradu kekuatan ini duduk bersanding di dalam satu partai. Tentu bukan hal buruk dengan munculnya perdamaian antara dua kubu ini. Namun, akan menjadi masalah jika niat untuk bergabung menjadi satu untuk adalah untuk bahu-membahu dalam keserakahan. Memperebutkan kekuasaan yang fana, yang akibatnya justru jauh dari cita-cita awal semula. Apalasi dengan munculnya beberapa tokoh reformasi sebagai terdakwa KPK. Sayang beribu sayang hingga saat ini pun kasus korupsi yang melibatkan mereka belum juga menemukan titik terang. Entah mungkin karena jalanan yang terlalu gelap atau justru kesengajan dalam menutup pandangan dari kebenaran. Terlepas dari beberapa oknum yang mencemarkan nama baik pejuang reformasi, pastinya masih banyak yang memperjuangkan hak-hak rakyat.

Sedikit tentangmu mei, kita selalu diingatkan dengan peristiwa-peristiwa penting ini, yang setiap tahun hanya bagai roda yang berputar. Berulang-ulang tanpa ada penyelesaian. namun, berpikir positif, masalah klasik ini juga akan menemukan jawabannya. Kau selalu indah mei, pagimu selalu indah.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar