Rabu, 29 Januari 2014

Pak Es Cincau

Terpogoh saya membawa ransel yang berisi penuh buku. Bukan perjalanan yang jauh, namun satu setengan jam ditambah macet dan ngetem yang diluar perkiraan sudah pasti menguras tenaga. Saya sudah mulai memperkirakan bahwa perjalanan dari kampus menuju rumah akan menyebalkan dengan bawaan sebanyak ini. Dimulai dari metromini 53 dari Rawa mangun lalu disambung bis Cibinong dan angkot 08.

Matahari tengah giat-giatnya menyinari bumi, namun para penumpang setia 53 tetap membanjiri angkutan satu ini. Beruntung saya dapat tempat duduk. Tetiba di Prumpung saya turun tepat di depan tukang es cincau untuk selanjutnya menunggu bis tujuan Cibinong. Disinilah saya bertemu dengannya.

Saya: Pak, mau ikut duduk ya (padahal gak beli).
Pak es: Iya mbak (mempersilahkan)
Saya duduk dengan pandangan melas (capek...)
Pak es: Mbaknya kuliah ya?
Saya: Iya pak
Pak es: Saya juga dulu kuliah
Saya: Ooh... (wah langsung mikir sedihnya Bapak ini mungkin gak bisa nerusin kuliah karena kekurangan biaya)
Pak es: (sambil tersenyum) Kuli angkut garam di Pelabuhan ratu
Hehehe... Bapak ini aya-aya wae...
Saya: Bapak rumahnya dimana?
Pak es: Gak dibawa mbak, berat kalau dibawa)
Wealah skak mat saya... Hoho

Bapak penjual es cincau itu, yang gak saya kenal, yang saya gak tau namanya, yang saya gak beli esnya. Masih mau-maunya ngobrol dengan saya yang gak asik dan garing diajak guyon. Saya jadi ketawa-ketawa terus dengar guyonnya dia, bahkan sempet-sempetnya nasehatin "Sekarang kuliah, nanti lulus, terus kerja. Nah, nikahnya kapan?". Hahaha.... ada aja. Padahal apa untungnya ngingetin saya, sodara bukan, tetangga bukan. "Jangan lupa nikah." tambahnya lagi. Ngobrol dengan bapak es cincau itu gak pernah ngebosenin, meskipun saya lebih banyak ngedengerin (gak bisa nimpalin candaannya =_=).

Jleb banget. Saya jadi malu sendiri. Bisa-bisanya ngeluh cuma bawa ransel yang beratnya gak seberapa. Dibanding bapak itu yang setiap hari mendorong gerobak es cincau puluhan kilometer. Bergelut dengan bisingnya kendaraan dan debu jalanan, tapi masih bisa melapangkan beban saudaranya (saya). Dialah da'i itu, yang mengamalkan sunnah Rasulullah. Saya beruntung bertemu dengan bapak itu. Kita tidak akan pernah mampu mencukupi kebutuhan saudara kita dengan harta, maka cukupkanlah dengan akhlak.
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walau dengan menemui saudaramu dengan wajah berseri" (H.R. Muslim)

Terima kasih Allah telah menegur dengan cara amat halus, melalui pertemuan dengan hamba-Mu yang luar biasa.

Esok lusa saat kau melihat penjual es cincau di Prumpung, bisa jadi ia Bapak es yang saya tulis disini.
^_^



Senin, 27 Januari 2014

Al Jazeera Arabic

"Kita bisa mandiri tanpa bergantung pada Amerika. Kita sudah punya al Jazeera yang mendunia." (B.J. Habibie dalam seminar di Universitas George Town, Qatar Foundation)

Merinding dengarnya saat eyang Habibie berkata mantap di hadapan peserta seminar yang sebagian besar berasal dari Indonesia dan penduduk Qatar sendiri. 

"Kalau perlu di boikot BBC" (Saya lupa dimana membacanya, salah satu qaul Yusuf al Qardhawi)
*saya sendiri belum bisa lepas darinya :(

Sedikit, saya mulai meraba adanya perbedaan antara sudut pandang dari berita yang dimuat di al Jazeera arabic dan BBC arabic. Sebagai informasi tambahan, para reporter di BBC, CNN, atau RT (arabic) bukanlah penutur arab atau muslim. Tapi kefasihan mereka bertutur arab tidak usah dipertanyakan lagi. Silahkan tonton videonya ^_^

*Ops... informasi tambahan, al jazeera menyediakan portal belajar bahasa arab secara online dengan berbagai pilihan bahasa (Inggris-Perancis, sayang Indonesia belum ada). Selamat belajar :)
http://learning.aljazeera.net/arabic
Selain itu ada kolom khusus yang memberitakan perkembangan Mesir dan Suriah :)

Berikut saya tuliskan informasi tentang berdirinya al Jazeera dikutip dari buku al Kitab fii ta'allumil lughoh arabiyah juz 2, hal 78

Saluran al Jazeera dibentuk di daulah Qatar pada bulan februari tahun 1996, syeikh hamad ibn khalifah al tsani, hakim dari daulah Qatar saat itu merupakan orang yang paling berjasa dalam pembentukkannya. Ia telah memberikan bantuan finansial. Meskipun pebentukkannya berhubungan dekat dengan hakim Qatar akan tetapi saluran al Jazeera menegaskan dirinya sebagai lembaga non pemerintah serta tidak bertujuan untuk mengungkapkan sudut pandang Qatar secara resmi.

Kantor al jazeera terletak di kota doha, Qatar. Pengunjung yang berkunjung kesana akan menemukan bangunan, kantor, dan pegawai yang terlihat biaa-biasa saja, berbanding terbalik dengan saluran-saluran dunia seperti BBC, CNN, atau saluran televisi Qatar resmi. Meski begitu al jazeera telah mencapai keberhasilan gemilang , sejak didirikannnya, menempati posisi yang penting diantara saluran-saluran berita dunia dan menjadi saluran satelit berita terbesar di arab berdasarkan penyebaran dan jumlah penontonnya.

Al jazeera spesialis di penyebaran berita, yang menyajikan berita setiap saat selama 24 jam setiap hari. Berfokus pada perkembangan berita-berita di wilayah arab dan dunia, sebagaimana dia juga memperhatikan tema-tema lain seperti ekonomi, kebudayaan, olah raga, kesehatan dan secara khusus memperhatikan tema-tema demokrasi, kebebasan, dan hak-hak manusia di dunia arab. Wartawan, pekerja, dan semua orang yang berkecimpung di dalamnya berasal dari berbagai Negara arab, kantor al jazeera saat ini terdapat di 30 ibukota di Negara arab dan dunia.

Al jazeera memberikan sumbangsih untuk memberitan isu-isu  terbaru bagi demokrasi di Negara-negara arab melalui program-programnya yang mengemukakan sudut pandang yang bermacam-macam. Penonton dapat ikut serta dalam diskusi melalui televisi, faks  atau email dan mengemukakan pendapat mereka dengan bebeas. Hal ini merupakan sesuatu yang penting bagi sebagian besar suku arab yang belum mempunyai pengalaman yang besar dalam keikutsertaan dalam kancah perpolitikan.
Meskipun al jazeera sudah tersebar luas, namun pemerintah arab Saudi, Iraq, Kuwait, jazair, dan tunisia tidak memberikan izin masuk bagi wartawan al jazeera ke Negara mereka karena mereka menganggap al jazeera portal yang tidak objelktif. Sehingga akan mempengaruhi  pengambilan keputusan di Negara-negara tersebutdan mereka  akan terpaksa mengikuti berita dan pendapat yang dikatan dan disebarkan oleh al jazeera.

Sumber: Google


Minggu, 26 Januari 2014

Nina dan RUU KKG

Mentari masih malu-malu mengintip di balik cakrawala, kokokan ayam bersahutan dari semua kandang di rumah penduduk tak sabar minta dilepaskan di pagi buta, burung-burung mulai beterbangan berkelompok membentuk sebuah sayap besar di angkasa, aku menyapa setiap orang dengan berseri di pagi ini.

Ya, pagi hari yang indah, menyegarkan, di pagi hari satu semangat baru bergumpal di jiwa para pejuang, menyiapkan amunisi untuk berperang hari ini, mereka seolah tak sabar menaklukkan tantangan.

Sementara itu, “srek srek srek” suara sapu lidi tak kalah bersahutan di pekarangan rumah penduduk. Kali ini mari kita bertandang pada sebuah sapu yang tengah dipergunakan seorang gadis usia belasan tahun. Tangannya memegang sapu lidi dengan cekatan, berusaha secepat mungkin menyelesaikan tugasnya membersihkan halaman, setelah semua daun yang berguguran berkumpul barulah ia mengangkatnya dengan serokan sampah lalu membakarnya. Ah, aku tak mengerti dengan pekerjaan ini, bukankah esok atau lima menit kemudian daun-daun rambutan itu akan berguguran juga? Jadi sama saja bukan disapu atau tak disapu? Benar saja, saat asap pembakaran mulai membumbung tinggi tak sampai dua menit sehelai daun jatuh di pekarangan yang sudah disapu bersih. Gadis itu tak menghiraukannya, dengan mata kuyunya dia tetap melangkah pasti menuju dalam rumah masih banyak pekerjaan yang menunggunya. Namanya Nina, sulung berusia 15 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, dari sore sampai menjelang subuh bekerja sebagai buruh  di pabrik tekstil yang membeli sebagian sawah-sawah pertanian milik penduduk sebagai lahan usaha.

Jadilah Nina satu dari ratusan pelamar di pabrik tersebut, beruntung dia lolos penyeleksian. Sementara ratusan kilometer dari sana sekelompok perempuan yang megenalkan diri dengan faham feminisme bersorak-sorak mengelukan suara mereka agar disahkannya UU KKG. Lihat apa yang mereka maksudkan dengan adil dan setara, kukira mereka berbeda dengan Nina yang hanya lulusan SD, kukira mereka bersekolah hingga mencapai banyak tingkatan S, kukira kepala mereka telah penuh dengan memori berbagai macam ilmu, tapi mereka tetap tak mengerti ungkapan “adil dan setara” aku jadi curiga, jangan-jangan mereka hanya boneka kayu yang dimainkan dalang di balik layar, atau mungkin mereka hanya merujuk satu ilmu saja dalam mengusung RUU ini, atau mungkin mereka telah banyak terpengaruh bisikan-bisikan Barat yang justru tak relevan dengan kondisi  Negara dan religi di negri ini. Ah, tak baik berasumsi yang tidak-tidak. Mungkin aku terlalu mengada-ada.

Sebagai negara yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam mari kita lihat kedudukan wanita di mata Islam. Saat ditanya seorang sahabat siapa yang paling berhak kita hormati rasulullah menjawab “Ibumu” hingga tiga kali. Bagaimana tidak istimewanya seorang ibu? Ia bahkan menempati tiga posisi sekaligus. Salah soerang ummahatul mu’minin, siti Aisyah yang karena kecerdasannya menjadi rujukan dalam banyak hadits. Jika tidak merujuk pada para shohabiyah, niscaya akan banyak ilmu yang hilang dalam Islam. Tapi Islam tetap mengakui keshahihan hadits yang disanadkan pada para perempuan, tidakkah ini berarti wanita juga memiliki posisi yang sama dalam bidang keilmuan? Laki-laki dan perempuan memang berbeda dalam fitrahnya, toh pada dasarnya mereka memang berbeda. Seorang suami memiliki kewajiban bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarganya, sedang seorang istri tidak diwajibkan untuk mencari nafkah, karena seyogyanya rizki seorang istri dititipkan pada suaminya, bukankah hal ini justru memberikan keleluasaan pada kaum perempuan.

  Kewajiban inti perempuan adalah mengurus anak-anaknya. Jangan kira mendidik anak adalah perkara mudah, jangan kira pekerjaan ibu hanya melahirkan anak dan memberi makan saja. Seorang ibu juga harus memiliki ilmu untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Dalam kitab tarbiyah dikatakan “al umm madrosatul ula fil bait” ibu adalah sekolah pertama di rumah. Setelah perjuangan antara hidup dan mati melahirkan anak, tugas ibu kian hari kian bertambah, saat masih anaknya bayi ia harus rela bergadang sepanjang malam, saat anaknya bertambah umur ibu jualah yang paling dominan membekalinya dengan pendidikan, baik itu secara langsung ataupun tak langsung. Jadi inti pokoknya seorang wanita juga harus membekali dirinya dengan pengetahuan. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah telah mengatakan:

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
“menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”

Begitu pula yang terjadi saat seorang sahabiyah bertanya pada rasulullah mengapa lelaki boleh ikut berperang (sehingga mereka bisa mendapatkan banyak pahala) sedang kaum perempuan tidak? Rasulullah hanya menjawab bahwa tinggalnya seorang wanita di rumah yang menjalankan tugasnya dengan baik dan amanah terhadap suaminya adalah sebuah ibadah.

Lalu apa yang mereka maksudkan dengan pengusungan UU ini? Keirian mereka pada wanita-wanita barat mungkin telah membutakan mata mereka dan menulikan telinga mereka sehingga mereka tak mampu menggunakan akal sehat mereka. Sudah bosan ku bisikkan jika wanita-wanita itu justru lebih cepat mengalami stress karena beban pekerjaan di luar dan tugas di dalam rumah.

Merujuk pada hadits di atas jelas perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Tetapi jika berlanjut pada tuntutan-tuntutan yang tidak rasional, seperti yang sekarang ini tengah marak diperbincangkan, itulah yang dinamakan dengan berlebihan. Dengan disahkannya UU ini maka para perempuan berhak menikah dengan non muslim tanpa izin walinya, mereka juga merasa diperlakukan dengan tidak adil dalam masalah ilmu waris dan batasan aurat, padahal hukum Allah jelas melindungi hak-hak perempuan. Contohnya dalam ilmu waris lelaki mendapatkan setengah bagian karena dalam bagiannya itu ada hak istri dan anak-anaknya, sedangkan perempuan menndapatkan setengah dari bagian laki-laki karena semuanya penuh atas miliknya tanpa ada hak suaminya.

Orang-orang  itu salah berkaca, mereka bercermin pada kaca yang salah, pada Negara yang yang jauh dari syariat Islam. Mereka alpa melihat sekeliling, sibuk memperkaya, mempercantik, meluaskan kekuasaan, menuntut hak-hak di luar rasio untuk diri mereka sendiri. Padahal di pelosok negri kaya ini jutaan perempuan masih awam terhadap hak memperoleh pendidikan, jutaan Nina hidup di negri ini dalam keummiannya, tak tersentuh oleh hiruk pikuk kerusuhan yang terjadi.

Nina bercermin pada kaca lemari rumah, memandang bayangan dirinya dalam cermin itu, lantas tersenyum gembira, minggu lalu seorang bujang lapuk melamarnya, tak ada alasan baginya untuk menolak lamaran itu. Esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dia akan menjadi istri orang yang berarti ia tak perlu lagi menjadi buruh pabrik.


 Sementara ratusan kilometer dari situ, jarum jam menunjukkan pukul 10.30 malam, seorang wanita masih sibuk di kantornya dengan tumpukkan kertas setinggi gunung, abai terhadap telepon genggamnya yang menggeliat resah dari tadi, deadline tugas sudah menunggunya malam ini juga harus rampung. Sementara sang suami jua tak berbeda jauh, tak ada yang menunggunya di rumah membuatnya malas pulang ke rumah sehingga memilih kantor sebagai rumah keduanya. Di tempat lain, si sulung mengendarai motor gedenya dengan cepat seolah ingin berpacu denganku sementara di pinggir kiri kanan sekelompok anak muda menyorakinya. Di rumah mewah itu, si bungsu yang baru berumur satu tahun tengah rewel dalam gendongan baby sitter, badannya panas. Berkali-kali baby sitter itu mencoba menghubungi majikannya tapi tak ada jawaban. 

Revolusi 25 Januari (Al Jazeera)

Revolusi Januari, Mesir

Dari Portal Al Jazeera Arabic

Dini hari, aktifitas yang tak biasa mengenang tahun ke-tiga peristiwa revolusi 25 Januati untuk menolak kudeta terjadi di Iskandariah. Aksi demonstrasi dilakukan oleh penduduk Mesir di jalan-jalan utama di Mesir. Mereka menyerukan slogan yang mereka namakan "mengembalikan revolusi" dengan membawa logo-logo untuk menjatuhkan pemerintah. Demonstrasi dilaksanakan di berbagai wilayah, diantaranya Burj Arab, al awaaid, as shafraa, dan suyuf.

Akan tetapi pihak keamanan dengan cepat melepaskan tembakan ke arah demonstran. Seketika suanana menyala-nyala dan mereka berlarian ke berbagai arah. Sementara itu suara tembakan dan senjata gas bersahutan. Sumayyah Abdullah Hayyat terpisah dari rombongan setelah terkena tembakan di dadanya di mana ia mengikuti demonstrasi di Suyuf di barat Iskandariah. Sumber peluru mematikan berasal dari polisi dan pihak keamanan yang berhadapan dengannya dan mencoba memisahkannya dari rombongan demonstran. Lalu apa yang dikatakan Ayah Sumayyah?

"Allah swt tidak akan menunjukkan jalan kedzaliman, Allah swt akan menolong orang-orang terdzalimi, anak perempuanku telah berpulang ke hadapan Tuhannya..."

Korban luka bertambah banyak. Disini, di lapangan  as shafra korban luka dipindahkan untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Terdapat beberapa gambar tentang perikaian antara demonstran dan pihak keamanan, antara penolak kudeka dan pihak keamanan. Meskipun jumlah korban luka dan meninggal terus bertambah, akan tetapi mereka berkumpul kembali untuk melanjutkan aksi demonstrasi. Inilah peringatan revolusi Mesir yang dipenuhi dengan kemuraman dan darah.

Sumber : http://www.aljazeera.net/reportslibrary/pages?id=f34f0584-80ea-4150-a27b-1c80cda449fe

Pendorong Gerobak

Terburu-buru ia mendorong gerobak bawaannya yang penuh dengan barang belanjaan. Gerobak itu tidaklah terlalu besar, menyesuaikan dengan kondisi jalanan pasar yang sesak dengan para pengunjung. Apapun yang kau cari bisa kau temukan disini. "Apapun yang anda beli kami siap membawakannya", mungkin itulah slogan darinya. Souq Waqif menjadi tempat menggantungkan hidup untuk memenuhi kebutuhannya. Dia tak miliki toko abaya, kedai halawiyyat (manisan), ataupun math'am yang banyak menyediakan shisha. Ia hanya miliki gerobak hijau berukuran sedang yang beroda satu ditambah jaket merah marun tanpa lengan yang bertuliskan hammal (pembawa barang)

Pakaiannya seperti pakaian orang-orang pada umumnya, gamis putih bersorban dilengkapi dengan jaket identitas "hammal". Dia akan menawarkan jasanya pada para pelanggan yang membutuhkan tenaga membawa barang. Tak ada yang istimewa darinya. Bukankah kita lazim menemui kuli angkut barang di setiap pasar? Bukankah anak-anak hingga bujang-bujang tanggung banyak menawarkan jasa kresek atau membawa barang di pasar-pasar Indonesia? Ya, profesi ini banyak sekali kita temui di pusat perbelanjaan. Hanya saja, disini saya melihat banyak dari mereka multahi (berjanggut) putih. Tak sedikit dengan postur tubuh yang sudah bungkuk. Mendorong gerobak milik pelanggan berabaya hitam yang dengan sekilas saja kita bisa langsung tahu masih segar bugar. Berkali-kali ia menarik nafas pendek-pendek saat berhenti di sebuah toko lantas mengelap peluhnya dengan sorban. Tentu masih banyak diantara mereka yang berbadan kekar dan kuat sebagaimana banyak pula dari mereka yang telah kehilangan kekuatan masa mudanya.

Aduhai, dimanakah rumahnya? siapakah keluarganya? Pastilah negeri ini bukan tempat kelahirannya, negeri ini cukup sejahtera untuk menghidupi pribuminya.

Untukmu, jadd di souq waqif

Sumber: Google

Kamis, 23 Januari 2014

Sekolah bagi Anak-Anak Suriah

Penderitaan adalah gambaran umum bagi para pengungsi Suriah di perkemahan Athmah, perbatasan antara Turki dan Suriah. Namun "buta aksara" yang dialami anak-anak pengungsi merupakan salah satu penderitaan yang paling berbahaya. Lebih dari 4000 anak tidak dapat mendapatkan pendidikan. Mereka berkumpul di perkemahan bersama para pengunjung, sedangkan wajah-wajah mereka diliputi kesedihan, kehilangan, dan kebimbangan. Tahun ajaran baru sudah di ambang pintu, namun tak ada sesuatupun yang menunjukkan momen itu. Sebagai ganti dari kesibukan mereka di sekolah, anak-anak ini justru disibukkan dengan tempat berlindung dan sekerat roti. Tanpa buku, pulpen, atau kurikulum anak-anak berkumpul di salah satu kemah yang dinamai sekolah. 

"Lebih dari 5000 anak terusir dari rumah mereka dan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Kami mencoba meringankan beban musibah mereka, namun banyak kendala yang kami hadapi, terutama untuk menyediakan pendidikan." Keterangan salah seorang pengajar.

Anak-anak di pengungsian memang tidak dapat belajar di sekolah, namun paling tidak mereka tidak lupa akan hak mereka dalam memperoleh pendidikan.

#Harap kritik dan sarannya

Pengungsi Suriah di Athmah

Perkemahan Athmah, perbatasan antara Suriah dan Turki para pengungsi Suria menderita kedinginan dan kelaparan. Tak banyak yang diharapkan mereka dari konferensi Jenewa 2, karena pada kenyataannya konferensi Jenewa 1 pun tak banyak menjamin keamanan bagi mereka. Meski begitu tak sedikit pula yang menggantungkan harapan mereka pada konferensi ini, setidaknya dapat pulang ke rumah masing-masing adalah hal yang sangat diharapkab. Lapar, dingin, dan kematian menemani mereka di perkemahan ini, ditambah lagi dengan anak-anak yang putus sekolah sejak meledaknya konflik Suriah.

~Tolong masukannya~

Selasa, 21 Januari 2014

PAK TUA (bukan versi Borno)

Di zaman ini, saat banyak penguasa yang bertindak untuk kemaslahatan dirinya sendiri masih banyak pula orang-orang baik, amat baik. Yang terlihat, tersorot kamera, dipuji-puji orang, diberitan di televisi dan koran-koran, begitupun orang-orang baik di jalan sunyi, yang namanya tak disebut manusia di dunia namun menggaung di langit. Alhamdulillah, dimananpun saya selalu bertemu orang-orang baik itu.

Kali ini masih berkaitan dengan aktfitas saya di ramadhan 1433 H dalam acara "BBY" belanja bareng yatim. Acara yang mengundang ratusan anak yatim untuk berbelanja di sebuah supermarket, saat itu saya sebagai salah seorang koordinator di kelompok yang didampingi oleh seorang Pak Tua, guru teladan yang sederhana dalam kacamata saya.

Beberapa kali mengkoordinatori kelompok sekaligus bersinergi dengan pendamping (baik perempuan atau laki-laki) membuat saya mampu membedakan antara pola belanja kaum adam dan kaum hawa. Kaum wanita biasanya sangat detail terhadap perbedaan harga, bahkan seratus dua ratus rupiah, sehingga terkadang -menurut saya- mereka memaksakan ghiroh belanja mereka kepada anak-anak, kadang kala anak-anak jadi tak leluasa memilih, kabar baiknya pertimbangan kaum hawa yang masak mampu menghemat dan mengarahkan anak-anak agar memilih barang-barang yang berguna. Tapi kadangkala saya selalu kehabisan peran untuk mengarahkan anak-anak, hehe.

Sebaliknya Bapak-bapak tak melihat detail pada harga hanya pada barang, sehingga anak-anak dapat memilih barang yang mereka sukai, kabar buruknya kadangkala saya melongo sendiri jika melihat anak-anak memilih mainan yang kurang bermanfaat dengan harga yang cukup mahal padahal dengan nominal itu mereka dapat memilih barang lain yang lebih berguna. Disinilah peran saya sebagai koordinator "bermain" dan naluri keibu-ibuan saya "berfungsi", hehe.

Untuk meminimalisir belanjaan anak-anak yang kurang bermanfaat bagi mereka, maka kami menetapkan beberapa item yang harus dibeli, salah satunya beras. Pak Tua ini langsung menyampaikan pada saya bahwa anak-anak tinggal di kampung dan beras melimpah disana. Tak sedikitpun dia memonopoli belanja anak-anak kecuali sekedarnya. "Anak-anak tidak pernah dapat kesempatan seperti ini, biarkan mereka memilih sesuka mereka", katanya. Pak Tua ini, saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Rambutnya yang sebagian besar beruban, setelan safari coklat model lama, dan senyum khasnya. Jika kau menatap matanya dan menemukan senyumnya, kau akau langsung tahu kejernihan hatinya. Lelaki tua yang dengan tulus menyayangi anak-anak yang sebagian besar tak berayah itu. Allah Allah Allah....
Saat bertemu dengannya saya mengerti "kemuliaan tidak akan pernah tertukar". Kekayaan hatinya mampu mengalahkan kemilau berlian para pembesar.

Tak hanya Pak Tua, anak-anakpun seringkali membuat saya terharu. "Saya mau beli sandal untuk adik dan Ibu." ucap salah seorang anak. Allahu Akbar... lagi-lagi, mutiara terpendam itu saya temukan padanya. Satu kesempatan yang ia dapatkan, sedikit rezeki yang ia punya, masih selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Sudahkah kita sepertinya? atau masih bakhil terhadap saudara sendiri?

Segala puji bagi Allah yang sudah mempertemukan dengan mereka. Meski hanya hitungan jam, tapi hingga kini ketulusan mereka masih saya ingat. Jadikan saya diantara hamba-hambaMu yang berfikir Allah.

Gambar Google

Berkah Ramadhan

Ramadhan 1433 H bersama Delia-adik kosan- menjadi bulan puasa yang paling berbeda, bukan di rumah atau di pondok saya menghabiskan sebagian besar waktu menunggu waktu berbuka. Untuk pertama kalinya saya bekerja di kantor sebuah lembaga penyaluran zakat sebagai relawan ramadhan yang bertugas di bagian laporan. Awalnya kami terlambat datang wawancara, namun justru keterlambatan ini membawa berkah, dimana seharusnya kami ditempatkan di stand-stand pembayaran zakat yang mengharuskan mencapai target tertentu, yang pastinya diperlukan kemampuan komunikasi dan persuasi yang tinggi disini (apatah jadinya saya jika ditempatkan di stand, jika berbicara dengan orang lain pun -yang belum terbiasa- harus mengulang-ulang kalimat disebabkan suara yang seadanya). Namun alhamdulillah Allah Maha Tahu, walhasil kami ditempatkan di bagian yang lebih memerlukan kemampuan kemampuan ketik-mengetik dan mengklasifikasikan data.

Jadilah dua perempuan cupu ini melangkahkan kaki ke kantor yang berlokasi di Condet Jakarta Timur dengan pengalaman kerja yang sangat seadanya. Berpengalaman menulis laporan kerja sekali dalam setahun. Untuk menanggulangi akibat kekurang berpengalamannya kami, maka tugas masuk kantor pun dimulai sebulan sebelum ramadhan tiba. "Latihan dulu" ucap Pak bos yang bertugas sebagai atasan. Kabar buruknya masuk kerja dini ini berarti saya tidak bisa ikut acara jalan-jalan akhir tahun untuk terakhir kalinya bersama anak-anak TK. Tapi Allah ternyata menggantinya dengan pertemuan yang lebih indah, alhamdulillah.

Dalam tim relawan ramadhan kami berpartner dengan dua akhwat SEBI (Iin dan Via) di bagian administrasi dan bendahara, yang alhamdulillah keduanya kini telah menyempurnakan separuh agamanya. Selain mereka berdua ada juga beberapa orang ikhwan di bagian lapangan.

Sebelum memasuki bulan ramadhan tidak banyak pekerjaan yang berarti. Mendata proposal-proposal yang diajukan beberapa ormas terkait acara di bulan puasa yang ditunjukkan untuk masyarakat yang membutuhkan. Adapun beberapa bentuk program yang difasilitasi oleh lembaga adalah: buka puasa bersama, zakat, fidyah, tebar Qur'an, belanja bareng yatim, bedah masjid, dsb.

Hari pertama ramadhan saya sempat syok karena program baru berjalan hari itu dan laporan diminta di hari yang sama. Padahal sudah sejak awal pas bos memperingatkan "Laporan tuh pintu keluar-masuk, donatur bisa mempercayakan amanahnya lagi kepada kita jika laporannya benar." Untungnya partner kerja saya, Delia mampu mengatasinya. Hari-hari ke depan ternyata lebih sibuk sehingga tak sedikit dari personel lain yang turun tangan membantu pekerjaan kami. Donatur yang masuk berasal dari dalam dan luar negeri, salah satunya yaitu PERMIQA QATAR (persatuan masyarakat indonesia di Qatar). Kebetulan eh bukan pada saat itu kami juga yang merampungkan laporannya, hari ini saya merasa jadi bagian darinya... qadarullah Sang Perancang Takdir terbaik.

Saat itu kami (saya dan delia) pulang-pergi dari Rawamangun menuju Condet setiap hari, sebenarnya bukan jarak yang terlalu jauh, namun macet, mengantri busway, menyebrang by pass, dan berdesakan cukup menguras tenaga. Dalam perjalanan pulang dengan busway, adalah nikmat yang sangat menyenangkan saat kami mendapatkan tempat duduk. Saya sering berfikir justru di saat inilah Allah membuka pahala berlipat bagi seseorang yang sama-sama sedang kelelahan namun mempersilahkan orang lain untuk duduk. Demi memanfaatkan waktu seefisien mungkin, kami sering tidur di dalam busway, hingga suatu hari kami terlewat satu halte transit. Alhamdulillah, hanya sekali hehe.

Amanah dan tanggung jawab selalu bergaris lurus dengan loyalitas, dikarenakan laporan menjadi pintu keluar seringkali kami harus lembur untuk menyelesaikannya. Lagi-lagi Maha Baiknya Allah, atasan kami adalah pribadi yang sangat memperhatikan bawahannya, jika lembur pasti selalu disediakan makanan ekstra, bahkan beliau sampai menyewakan kos-kosan dekat kantor agar kami tak perlu bolak-balik kosan-kantor. "Berikanlah upah pekerjamu sebelum kering keringatnya" kata Rasulullah, atasan kami ini termasuk sedikit orang yang mengamalkannya.

Bertemu dengan orang-orang baru di lingkungan perkantoran adalah perngalaman pertama saya disini. Berkenalan dengan orang-orang luar biasa, kerja cepat, cerdas, ikhlas dalam nuansa ukuwah Islamiyah yang kental. Saya masih ingat perkataan salah seorang atasan disana saat saya menceritakan keinginan untuk membangun sekolah gratis bagi anak-anak "Tenang aja is, rezeki mah dari mana aja datangnya. Masih banyak kok orang-orang baik." Ya, saya percaya masih banyak orang-orang baik saat ini yang terlihat maupun yang tersembunyi. Bersentuhan dengan ranah perkantoran ternyata tidak semenakutkan yang saya duga. Disini selalu berlaku "senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah". Namun begitu saya juga mersakan perbedaan krusial antara bekerja disini dan di sekolah, dimana kebanyakan interaksi dengan benda mati tak jauh lebih menyenangkan dari mendengar celoteh anak-anak yang kadang buat frustasi (menurut saya).

Menunggu saat berbuka adalah waktu yang dinanti-nanti, begitu juga dengan karyawan di kantor ini. Bukan menu istimewa yang dihidangkan, hanya gorengan, buras ditambah cabai atau sambal kacang. Menu sesederhana inipun selalu terasa lebih nikmat, mungkin karena ada barokah disana. Sehingga jadilah masing-masing kami para pemburu ta'jil. Di saat sibuk seperti inilah kita harus mampu mengatur waktu dengan cermat, dealine laporan-target khatam-i'tikaf, dll. Kesibukan yang menyenangkan dan Insya Allah bermanfaat.

Berbeda pula di malam takbiran, selepas magrib kami masih repot menuntaskan laporan dan evaluasi sebelum libur hari raya. Sekitar pukul delapan malam kami baru bertolak dari kantor menuju rumah masing-masing dengan menenteng bingkisan yang dibekalkan. Sesampainya di pasar Rebo kami berpisah, Delia menuju Baranang siang, sementara saya janji bertemu dengan adik yang sama-sama memanfaatkan libur ramadhannya dengan bekerja. Sesuai perkiraan, jalanan macet dan kendaraan penuh. Mungkin tengah malam kami baru tiba di rumah yang disambut dengan wajah cemas Bapak.

Biasanya lebaran adalah momen pulang kampung bagi kebanyakan orang. Tidak begitu disini, sebagian besar karyawan mengorbankan waktu liburnya untuk bekerja saat orang lain masih menyantap ketupat dan opor ayam. Perjalanan panjang bagi kami yang pemula untuk menyelesaikan laporan, sebulan setelah lebaran 100% pekerjaan kami rampung. Amanah kamipun berakhir disini, melanjutkan amanah yang tertunda di kampus (skripsi+kuliah). Alhamdulillah bini'matihi tatimmu shoolihaat. Pengalaman baru, perjuangan mengesankan, orang-orang luar biasa.

^_^

Jumat, 10 Januari 2014

Ahl Zuhud


Persia dan Kisra ada dalam genggamannya, namun ia tetap di Madinah kota hijrah umat Islam.
Madinah yang gersang, tapi disanalah kekuasaan itu bermula. Disana, tak perlulah miliki senjata.
Pemimpinnya telah berlaku adil, maka bukan jubah kebesaran yang dikenakannya namun
kezuhudan yang menjadi pakaian kebesarannya. Pemimpinnya telah berlaku adil, maka tak
perlulah ia pasukan pengawal khusus karena madinah dengan pohon-pohon kurmanya mampu
jadi tempat nyaman bagi tidurnya. Tak ada yang berlaku curang atau dicurangi di pasar, karena ia
telah menugaskan Asma' bint Abdullah untuk mengawasi barang-barang pasar. Pun tak ada seekor
hewan ternakpun yang luput dari penjagaannya, bahkan dia memastikan bahwa semua hewan
ternak mendapatkan bagian yang sama rata, tidak kekurangan pun tidak kelebihan. Dia tak miliki
singgasana nan megah, cukuplah pohon tamr menjadi tempat lelapnya.

عدلت فأمنت فنمت
Kau telah berlaku adil, maka kau aman dan dapat tidur dengan nyenyak -petinggi Kisra

Siapakah ia?

Selasa, 07 Januari 2014

Usamah dan Mahmud

Memperbaiki mobil menjadi pilihan bagi Usamah sebagaimana Mahmud yang memilih nmenggembala domba di usia mereka yang masih kecil. Pekerjaan berat ini terpaksa mereka lakukan karena lebih dari 250 ribu anak yatim yang kehilangan Ayah, Ibu atau keduanya, sehingga menuntut mereka untuk menghidupi diri bahkan keluarga mereka. Situasi dan kondisi yang tengah berlangsung di Suriah memaksa mereka memikul tanggung jawab ekonomi keluarga. Efek psikologi, ekonomi, dan sosial tercermin nyata di tangan anak-anak pekerja berat tersebut. Namun justru kebutuhan pendidikan mereka tidak terpenuhi, berdasarkan data Unicef 3 juta anak-anak Suriah putus sekolah setelah sekitar 3 ribu sekolah dihancurkan.

Tenda Belajar Bagi Anak-Anak Suria

Langkah-langkah kecil itu berkejaran penuh semangat menuju sebuah tenda di wilayah 'Asyawiyyah yang disebut sekolah. Hanya inilah satu-satunya sekolah yang dapat dijangkaunya setelah dua tahun lalu lalu putus sekolah karena mengungsi dari Suria ke Yordan. Sekolah ini diampu oleh para relawan Arab dan Yordan berdasarkan inisiatif individu.

"Tempat yang dimana ditinggali orang-orang berpendidikan sudah tentu akan menjadi daerah dengan prospek masa depan yang baik" Ucap salah seorang perempuan yang mengajar disana.

"Tentu banyak kendala yang dihadari oleh para aktifis disini, selain dari kurangnya materi dan sumber-sumber belajar, kami juga tidak memiliki guru yang benar-benar berkecimpung di bidang pendidikan" Tambah seorang aktifis.

"Banyak yang saya lupa dari pelajaran di sekolah. padahal saya sudah sudah pernah mempelajarinya..." Begitu salah seorang siswa mengungkapkan pendapatnya.

Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, kegiatan ini adalah salah satu bentuk nyata dari memperhatikan dan membangun generasi yang lebih baik.

*belajar meresume berita* ^_^
simak selengkapnya disini