Selasa, 12 Februari 2013

ELEGI SURTINI DAN AYUNDA



“Pung” hanya itu reaksi Minarni menanggapi ide gila lanang-nya. Sekian lama menunggu nyatanya hanya jawaban kepasrahan yang keluar. Tapi bukan Ipung namanya jika bukan ide liar yang bersemayam di kepalanya. Segala pendapatnya memang terkesan gila namun cerdik luar biasa. Maka tak heran kedatangannya selalu ditunggu-tunggu di saat genting.

Dalam serial ketiga Ipung ini, terbangnya Paulin ke Singapura berdampak sangat dominan pada sikap Ipung kemudian hari. Figur seorang orator dan negosiator ulung dalam kepopularitasnya redam redup berganti sikap apatisnya terhadap isu-isu Budi Luhur. Namun nyatanya, dalam diam pun kita tak boleh lengah atau tutup mata terhadap lingkungan sekitar. Terbukti dengan bangkitnya “Sang Pertapa” mengoperasikan mesin-mesin demonstran di akhir cerita.

Di sisi lain di Kepatihan, buku ini lebih banyak bertutur tentang perempuan-perempuan hebat. Adalah Minarni sang Ibunda, janda dengan segala karisma juga ketenangannya yang berhasil mendidik bocah ajaib ini. Dengan segala kesederhanaan tanah Kepatihan, hiduplah Surtini. Gadis desa yang menjadi gadis desa atas pilihannya sendiri. Namun, siapa sangka gadis amat pemalu ini menemukan keberanian juga mimpinya di saat paling mendesak. Ipung-lah dengan ide gilanya yang memaksa Surtini menemukan keberdayaannya. Terakhir, hadir juga Ayunda. Mungkin kecerdasan dan kefrontalannya sedikit mirip Ipung.

Sempat kehilangan sosok Paulin, yang di serial pertama dan kedua amat besar perannya. Sosok Ipung sebagai makhluk kurus nan ganjil juga sempat tercecer. Inilah Ipung bujang, kampung dengan segala keterbatasannya memilih untuk berdaya ketimbang pasrah pada guratan nasib. Buku ini lebih banyak menyoroti tentang hati dan perasaan lakonnya, tentang kemenangan hakiki juga roman-roman abg yang tidak menggalau.

1 komentar:

  1. Mbak, beli bukunya di mana ya? Aku dari dulu nyari-nyari buku ini. Mohon dibantu.

    BalasHapus