Memperbaiki mobil menjadi pilihan bagi Usamah sebagaimana Mahmud yang memilih nmenggembala domba di usia mereka yang masih kecil. Pekerjaan berat ini terpaksa mereka lakukan karena lebih dari 250 ribu anak yatim yang kehilangan Ayah, Ibu atau keduanya, sehingga menuntut mereka untuk menghidupi diri bahkan keluarga mereka. Situasi dan kondisi yang tengah berlangsung di Suriah memaksa mereka memikul tanggung jawab ekonomi keluarga. Efek psikologi, ekonomi, dan sosial tercermin nyata di tangan anak-anak pekerja berat tersebut. Namun justru kebutuhan pendidikan mereka tidak terpenuhi, berdasarkan data Unicef 3 juta anak-anak Suriah putus sekolah setelah sekitar 3 ribu sekolah dihancurkan.
Tampilkan postingan dengan label Translate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Translate. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Januari 2014
Tenda Belajar Bagi Anak-Anak Suria
Langkah-langkah kecil itu berkejaran penuh semangat menuju sebuah tenda di wilayah 'Asyawiyyah yang disebut sekolah. Hanya inilah satu-satunya sekolah yang dapat dijangkaunya setelah dua tahun lalu lalu putus sekolah karena mengungsi dari Suria ke Yordan. Sekolah ini diampu oleh para relawan Arab dan Yordan berdasarkan inisiatif individu.
"Tempat yang dimana ditinggali orang-orang berpendidikan sudah tentu akan menjadi daerah dengan prospek masa depan yang baik" Ucap salah seorang perempuan yang mengajar disana.
"Tentu banyak kendala yang dihadari oleh para aktifis disini, selain dari kurangnya materi dan sumber-sumber belajar, kami juga tidak memiliki guru yang benar-benar berkecimpung di bidang pendidikan" Tambah seorang aktifis.
"Banyak yang saya lupa dari pelajaran di sekolah. padahal saya sudah sudah pernah mempelajarinya..." Begitu salah seorang siswa mengungkapkan pendapatnya.
Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, kegiatan ini adalah salah satu bentuk nyata dari memperhatikan dan membangun generasi yang lebih baik.
*belajar meresume berita* ^_^
simak selengkapnya disini
Sabtu, 06 Juli 2013
AYAH HAQIQI(*bljr menerjemah)
![]() |
| google's image |
Seorang ayah pulang ke rumah seperti biasanya saat malam sudah larut, tiba-tiba dia mendengar suara tangisan yang berasal dari kamar anaknya, dia masuk kesana dengan perasaan cemas dan bertanya tentang penyebab tangis sang anak, anaknya menjawab dengan tersendat-sendat: tetangga kita (si fulan) telah meninggal dunia dan dia adalah kakek temanku, Ahmad.
Dengan terkejut ayahnya berkata: apa? Si fulan meninggal? Lalu mengapa? yang meninggal itu kan seorang kakek tua dan dia bukan seusiamu… lantas kau menangisinya seolah kau adalah anaknya, kau telah membuatku cemas anak bodoh…. Kukira telah terjadi bencana di rumah kita, jadi tangisan ini disebabkan oleh kakek tua itu, mungkin jika aku mati kau tidak akan menangisiku seperti ini!
Anak itu memandang wajah ayahnya dengan air mata yang tumpah di matanya seraya berkata: benar, aku tidak akan menangisimu seperti ini! Dia adalah orang yang mengajakku sholat subuh berjama’ah, dia adalah orang yang memperingatkanku akan jalan keburukan dan menunjukkanku pada jalan kebenaran dan taqwa, dia adalah orang yang memotivasiku untuk menghafal Al Qur’an dan membiasakan berdzikir
Sedangkan kau, apa yang kau lakukan untukku? Kau ayahku dalam nama, kau ayahku secara biologis, sedangkan dia telah menjadi ayah bagi jiwaku. Hari ini aku menangisinya, karena dialah ayah haqiqi, lalu anal itu terisak-isak dalam tangisnya.
Saat itulah, sang ayah menyadari kelalaiannya dan akibat dari perkataannya, maka menggigillah kulitnya dan air matanya mulai jatuh… lalu dia memeluk putranya dan sejak saat itu dia tidak pernah sekalipun meinggalkan sholat berjama’ah di masjid.
sumber : Qishoh wa Hikayah (المرجع: قصة وحكاي)
sedang belajar menerjemah
sangat diharapkan masukannya ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
